Monday, December 13, 2010

Siang ini begitu terik dan menyengat, membuatku enggan bergerak banyak. Karena setiap gerakan yang ku lakukan akan menghasilkan lebih dari 2 tetes keringat yang akan membalut tubuhku.
Aku menyeret kakiku, memaksanya untuk melangkah menuju tempat teduh yang memanggilku sedari tadi.
aku mengerjapkan mataku beberapa kali, mencoba menghilangkan kunang-kunang yang sibuk menari-nari di depan mataku.
Aku takut anemiaku kambuh, sungguh saat yang tidak tepat. Ku jatuhkan diriku di atas rumput yang sedikit kering, dan bersandar pada batang pohon yang besar, tegap dan kokoh. Aku meraba isi tasku secara brutal, mencoba mencari kipas lipatku. Sungguh, aku sangat sanga-t membutuhkan udara segar saat ini.
Walau ku tahu itu mustahil. Di tengah hari yang menyengat di ibu kota seperti ini sangatlah tidak mungkin mendapatkan udara segar untuk bernafas. Akhirnya ku temukan juga kipas lipatku setelah ku aduk-aduk isi tasku. Aku mengipasi diriku tanpa irama, berharap ada sedikit angin yang ku dapatkan. Aku mengelap peluh di dahi dan leherku dengan punggung tanganku. Sayup-sayup ku dengar alunan kotak musik yang mampu-sedikit-menenangkan jiwaku. Ah, dia datang lagi rupanya. Aku tersenyum kecil dan memejamkan mataku, mencoba melumat nada-nada indah itu dalam pikiranku. Aku membuka mataku dan melirik jam tanganku yang melingkar dengan manisnya di pergelangan tangan kiriku, tepat pukul 1:40.
Aku tidak tahu apa artinya, tapi ia selalu datang tepat waktu setiap hari. Tidak pernah kurang apalagi lebih.
"Aku menepati janjiku," katanya setengah berbisik. Suaranya bergetar dan halus. Aku tersenyum, walaupun ia tak mungkin bisa melihat senyumku.
"Aku selalu di sini, di sisi pohonmu yang lain," katanya, "...bolehkah aku melihat sisi pohonmu? Karena walaupun telah lama aku mengenal pohon ini, aku tidak tahu rupa indah sisinya yang lain."
Aku tersenyum, entahlah, aku merasa berirama, "datanglah dan bawakan musik itu untukku."
Dn ini lah dia, alunan musikku yang selalu menepati nadanya.

2 comments: